Pertemuan ke :13
Narasumber : Miftahul Hadi, S.Pd
Moderator : Gina Dwi Septiani, S.Pd., M.Pd
Hari/Tanggal: Senin, 24 Juli 2023
Materi : Kaidah Pantun
Berperahu kehuluan
Singgah sebentar di pertigaan
Belajar boleh nambah pengetahuan
Biar tak salah tentang dugaan
Perkenalkan Saya Gina Dwi Septiani, Alumni Kelas Belajar Menulis Gelombang 27 dan Moderator malam ini.
Pukul 19.04 wib moderator memberikan garis besar pertemuan maya kami malam ini,
Seperti biasa pertemuan ini kita akan bagi dalam 4 sesi
1. Pembukaan
2. Paparan materi melalu chat WA grup
3. Tanya jawab
4. Penutup
Pofil Narasumber
Nama : Miftahul Hadi, S.Pd.
Unit Kerja : SD Negeri Raji 1 Demak
Jabatan : Guru Kelas
Surel : miftahulhadi83@guru.sd.belajar.id
Pengalaman :
1. NSBPB Kemendikbudristek Gelombang 3
2. Guru Penggerak angkatan 5
3. Finalis Festival Pantun Pendidikan Negeri Serumpun (Kategori Guru) tingkat ASEAN
Organisasi
1. FPGL PGRI Kabupaten Demak (Sie Pengembangan Karir dan Profesi)
2. Forum Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Demak (Sie Organisasi, SDM dan Kemitraan dengan Pihak Lain)
3. Relawan WIMP PMA
4. Relawan KBMN PGRI
Karya
1. Buku solo "Menjaga Tradisi di Masa Pandemi, Kumpulan Pantun dengan Berbagai Tema"
2. Buku solo "Menulis Pantun Itu Mudah, Kumpulan Pantun Siswa Kelas V SD Negeri Raji 1 Demak"
3. Buku antologi "Gurindam Kalbu ASEAN"
4. Buku antologi "Panduan Belajar Menulis Writing Is My Passion"
5. Buku antologi "Senandung Desember Berpantun" (Kurator)
6. Buku antologi "Pantunesia Karakter Bangsa" (Kurator)
7. Buku antologi "Merdeka Berpantun Cinta Budaya Negeri" (Kurator)
8. Buku antologi "Rona Ramadan, Antologi Pantun Bersuka Ria"
9. Buku antologi "Rinai Rindu Sang Guru, Kumpulan Puisi Patidusa"
10. Buku antologi "Belajar di Tengah Corona, Kisah Pembelajaran di Masa Pandemi"
11. Buku antologi "Thamrin Dahlan 70 Tahun"
12. Buku antologi "Cerpen anak realis warna warni kehidupan anak"
Motto Hidup : Berkarya, berdedikasi, menginspirasi.
Tibalah saatnya kami di pertemukan di maya dengan pak narasumber yang di jembatani oleh mbak moderator yang bersemangat dan hangat menemani peserta kelas belajar menulis nusantara gelombang 29 ini. , dengan berpantun mbak Gina mempersilahkan pak narsum kami;
Pergi ke pasar membeli delima
Pulangnya mampir ke toko zaitun
Marilah kita sambut bersama-sama
Mas Miftah narasumber Kaidah Pantun
Setelah diizinkan masuk oleh mbak Gina,
Pak Narsum masuk ke group juga langsung balas pantun dari mbak Gina
Biji selasih di pohon angsana,
Pokok Bidara berbuah kuini,
Terimakasih kepada Bu Gina,
Membuka acara malam ini.
Pak Miftah memulai kelas dengan lafadz basmalah
"Bismillahirrahmanirrahim"
Kemudian di tambah pantun
Mawar sekuntum kecillah dahan,
Daun salam tumbuh di kota,
Assalamualaikum saya ucapkan,
Sebagai salam pembuka kata.
dan dilanjutkan dengan ucapan salam pembuka
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
Kemudian beliau memperkenalkan diri dengan pantun kembali
Banjir kanal jembatan patah,
Jatuh ke semak di pinggir kali,
Salam kenal saya mas Miftah,
Dari Demak berjuluk kota wali.
Kemudain dilanjutkan dengan ucapan terimakasih pak miftah
"Suatu kehormatan pada malam ini dapat berbagi dengan bapak ibu yang luar biasa dari penjuru Nusantara."
"Salam takzim kepada Founder kita Om Dr. Jay yang telah memberi kesempatan pada saya kembali bergabung di KBMN PGRI gelombang 29."
Pak Miftah juga merupakan alumni dari KBMN PGRI Gelombang 17, beliau juga hasil dari didikan dan mendapatkan arahan dari orang - orang hebat di dalam group ini
Kata beliau:"Berkat dukungan dari bunda Kanjeng, dan percikan semangat dari teh Aam, saya akhirnya menemukan potensi menulis di bidang pantun."
Berbicara soal pantun, pasti ingatan kita langsung tertuju pada saudara kita di pulau Sumatera yaitu suku bangsa Melayu.
Namun, perlu diingat apakah pantun yang kita buat sudah sesuai dengan Kaidah Pantun?
Namun sebenarnya pantun tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut Suseno (2006)
- Di Tapanuli, pantun dikenal dengan nama ende-ende.
Contoh:
Molo mandurung ho dipabu,
Molo malungun ho diahu,
Tatap siru mondang bulan.
Tampul si mardulang-dulang,
Artinya:
Jika tuan mencari paku,
Petiklah daun sidulang-dulang,
Jika tuan rindukan daku,
Pandanglah sang bulan purnama.- Di Sunda, pantun dikenal dengan nama paparikan.
- Di masyarakat Jawa, pantun dikenal dengan sebutan parikan.
Bapak ibu hebat, kita patut berbangga karena pantun telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda secara nasional pada tahun 2014. Menyusul pada tanggal 17 Desember 2020 pantun ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada sesi ke 15 intergovernmental comittee for the safeguarding of the intangible cultural heritage.Dengan penetapan tersebut, bukan berarti kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi, justru untuk terus memelihara sebagai warisan budaya tak benda dunia, pantun harus terus dikaji, ditulis sehingga terus lestari di masyarakat.Salah satu cara untuk melestarikan pantun adlah dengan membuat buku pantun. dan Pak Miftah s Siap mengawal. dan Bunda Kanjeng serta rekan-rekan hebat TSO juga siap mengawal.π.
Bapak ibu hebat, Pantun seringkali kita dengar saat pidato atau sambutan. Namun yang membuat khawatir adalah pantun digunakan untuk mengolok-olok, ujaran kebencian seperti yang sering kita saksikan di acara televisi.
- Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)
- Pantun berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau “deret”. Asal kata Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai “Panutun”, oleh masyarakat Riau disebut dengan “Tunjuk Ajar” yang berkaitan dengan etika (Mu’jizah, 2019)
- Pantun termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020)
- Sambutan pidato,
- menyatakan perasaan,
- lirik lagu,
- perkenalan, maupun
- berceramah/dakwah.
- Sebagai alat pemelihara bahasa,
- pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan
- kemampuan menjaga alur berfikir.
- Pantun juga melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar.
- Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata.
- pahami terlebih dahulu ciri-ciri pantun.
- kuasai perbendaharaan kata.
Contoh:
1. Tahu, bahu, perahu, suhu.2. Baik, naik, Daik, asyik.3. Cinta, pelita, kata, jelita, kota.4. Datang, petang, batang, kentang.5. Suka, cempaka, cuka, Malaka."Perbendaharaan kata bermanfaat agar Rima bisa sama."Karena sejatinya pantun menonjolkan keindahan kata.Bagaimana jika bapak ibu buntu, tidak memiliki pembendaharaan kata dengan bunyi yang sama?Silakan bapak ibu berselancar dan mencari di https://kuncitts.com/ ππUsahakan dalam memilih kata untuk Rima, jangan hanya satu huruf akhir yang sama bunyinya. Minimal dua atau tiga huruf.
3. Dalam membuat pantun akan lebih mudah jika menulis baris ketiga dan keempat terlebih dahulu.

Lengkap sekali, semangat
BalasHapusTerimakasih pakπ
Hapuswaw keren....
BalasHapusTerimakasih pak Faruqπ
HapusSabun terbuat dari kelapa, kelapa diparut di pinggir kali. Aku hormat kepada Anda, tulisannya runtut sekali.
BalasHapusSirih dimakan pak rahman
HapusRoti dimakan oleh si rudi
terimaksih saya ucapkan
kepada bapak yang berbudi
Mantap Ibu sekretaris kita
BalasHapusMasih banyak kekurangannya pak, masih berproses ππ
HapusMantap... F1, wah keren ibu, resumenya dapat bonus buku lagi dari narasumber. Selamat ibu
BalasHapusTerimakasih bukπ, tetap semangat πͺπ
HapusLengkap sekali
BalasHapusBelajar melengkapiπ
Hapuslengkap sekali yaa
BalasHapusTerimakasih yaππ
Hapus